Lebih dari Sekadar Slogan: Langkah Nyata SMA Muhammadiyah 25 Pamulang Ciptakan Ruang Belajar Anti-Perundungan
PAMULANG – Kekerasan dan perundungan di lingkungan institusi pendidikan kerap menjadi momok yang mengkhawatirkan. Menjawab tantangan tersebut, SMA Muhammadiyah 25 Pamulang mengambil langkah tegas nan humanis. Bukan sebatas imbauan di atas kertas, sekolah ini terus bertransformasi menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan inklusif melalui penerapan disiplin positif serta kolaborasi strategis lintas sektor.
Komitmen kuat ini semakin terlihat wujudnya kala sekolah menggelar program “Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memahami Disiplin Positif dan Anti Perundungan”. Program yang sempat mendapat sorotan positif dari Media Indonesia ini melibatkan 40 guru dan tenaga kependidikan.
Para pendidik tidak hanya diberikan teori, tetapi dibekali paradigma baru dalam menghadapi siswa. Melalui pendekatan disiplin positif, guru didorong untuk menyelesaikan masalah dengan membangun kesadaran, empati, dan tanggung jawab—beralih dari pendekatan hukuman konvensional yang kerap kali tidak menyentuh akar permasalahan.
Sinergi Hukum dan Edukasi Siswa
Langkah protektif sekolah nyatanya tidak berhenti di ruang kelas. Guna memberikan jaminan rasa aman yang sesungguhnya, SMA Muhammadiyah 25 Pamulang mengambil langkah berani dengan menggandeng pihak eksternal. Sekolah resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Majelis Hukum dan HAM PDM Kota Tangerang Selatan serta LBH Keadilan.
Sinergi ini memastikan tersedianya payung hukum, advokasi, dan pendampingan yang solid bagi seluruh warga sekolah—baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan—jika sewaktu-waktu terjadi kasus kekerasan atau perundungan.
Menariknya, upaya pemberantasan perundungan ini tidak bersifat top-down atau satu arah. Sekolah menyadari bahwa siswa adalah aktor utama dalam menciptakan iklim pergaulan yang sehat. Konsistensi ini dibuktikan melalui peluncuran gerakan #AyoBalasBaik. Kampanye partisipatif ini mengajak para siswa untuk turun tangan langsung mengedukasi rekan sebayanya dan melakukan aksi nyata guna menanamkan budaya saling menghormati sejak dini.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, SMA Muhammadiyah 25 Pamulang menjadikan 'anti-perundungan' sebagai napas dari budaya sekolah sehari-hari, bukan sekadar slogan pajangan di lorong kelas.
Sinergi Tiga Pilar: Harapan dan Langkah ke Depan
Mewujudkan ekosistem sekolah yang ideal tentu tidak bisa dilakukan secara sepihak. Oleh karena itu, pihak sekolah menyampaikan seruan dan harapan kepada tiga pilar utama pendidikan:
Untuk Guru dan Tenaga Pendidik: Diharapkan terus konsisten menjadi garda terdepan dalam menerapkan prinsip disiplin positif, serta mendampingi setiap dinamika siswa dengan penuh tanggung jawab dan empati.
Untuk Siswa: Teruslah aktif menjadi agen perubahan. Jaga iklim pertemanan yang sehat, berani menolak segala bentuk kekerasan, dan jangan ragu untuk melapor apabila melihat atau mengalami perundungan.
Untuk Orang Tua: Dukungan penuh dari rumah adalah kunci. Jadilah mitra strategis sekolah dalam membangun karakter anak agar lingkungan yang aman dan nyaman tercipta secara berkesinambungan.
Dengan kerja sama dan komitmen dari semua pihak, visi SMA Muhammadiyah 25 Pamulang untuk menjadi "sekolah unggul, Islami, kreatif, dan ramah bagi semua siswa" akan terus menjadi realitas yang kokoh berdiri.