TANGERANG SELATAN — Siapa bilang belajar literasi itu membosankan? Rabu (20/05/2026) kemarin, lapangan ASC Sport Center sukses disulap menjadi miniatur Nusantara yang super meriah! Tawa, aroma rempah yang menggugah selera, dan warna-warni dekorasi tradisional melebur jadi satu dalam acara tahunan kebanggaan kita: Festival Literasi Budaya 2026.
Tahun ini, festival mengambil tema yang sukses bikin perut keroncongan sekaligus wawasan bertambah, yaitu eksplorasi Makanan Tradisional dari Seluruh Daerah di Indonesia.
Totalitas Tanpa Batas: Perang Kreativitas Stand Kelas X dan XI
Acara ini tidak sekadar bazar makanan biasa. Setiap kelompok dari kelas X dan XI diberi tantangan untuk mendesain stand mereka sedemikian rupa agar merepresentasikan keunikan daerah yang sudah ditentukan. Hasilnya? Luar biasa!
Dari ujung ke ujung lapangan ASC Sport Center, kita bisa melihat miniatur Rumah Gadang, ornamen khas Bali yang estetik, hingga replika Honai dari Papua. Setiap stand benar-benar meriah, memiliki keunikan masing-masing, dan membuktikan betapa out of the box-nya kreativitas siswa-siswi sekolah kita.
Detail Dekorasi: Siswa menggunakan bahan daur ulang, kain tenun asli, hingga pernak-pernik buatan tangan untuk menghias stand.
Kostum Daerah: Tidak hanya stand, para penjaga stand pun tampil all-out mengenakan pakaian adat dari daerah yang mereka wakili
Lebih dari Sekadar Rasa, Ini Tentang Literasi!
Daya tarik utama dari festival ini adalah sesi persentasi. Setiap kelompok tidak hanya menjajakan makanan, tetapi juga wajib mempresentasikan dan menampilkan filosofi dari makanan khas daerah tersebut di hadapan para pengunjung dan dewan juri.
Inilah esensi dari literasi budaya itu sendiri. Kita tidak hanya diajak mencicipi lezatnya Pempek, Rendang, atau Papeda, tetapi juga mendengarkan langsung sejarah penceritaan ( storytelling ) tentang bagaimana makanan tersebut tercipta, makna bahan-bahannya, hingga tradisi yang mengiringinya di daerah asalnya. Semuanya disajikan dengan gaya kekinian yang seru dan informatif.
Ketegangan Menanti Sang Juara
Kemeriahan dan totalitas setiap kelompok tentu saja membuat dewan juri harus bekerja ekstra keras. Penilaian difokuskan pada beberapa kriteria utama yang menuntut kesempurnaan dari setiap tim:
Kemampuan Presentasi: Seberapa luwes dan informatif siswa dalam menjelaskan asal-usul makanan.
Penampilan Hidangan: Estetika penyajian dan keaslian rasa makanan tradisional.
Nilai Literasi Daerah: Kedalaman wawasan budaya yang berhasil disampaikan kepada audiens.
Kreativitas Stand: Keunikan dekorasi dan totalitas visual dari setiap kelompok.
Saat ini, dewan juri masih mengantongi nama-nama pemenang. Hasil akhir dari kelompok mana yang berhasil menyandang gelar juara akan segera diumumkan dalam waktu dekat. Mengingat setiap stand tampil dengan sangat memukau dan punya daya tarik magisnya masing-masing, pengumuman juara nanti dipastikan akan sangat menegangkan!
Festival Literasi Budaya tahun ini sukses besar membuktikan bahwa mencintai dan mempelajari budaya bangsa sendiri bisa dilakukan dengan cara yang sangat keren, fun, dan mengenyangkan. Stay tuned untuk pengumuman juaranya, dan sampai jumpa di festival spektakuler tahun depan!