Skip to content

Sejarah Perkembangan

SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang berdiri tahun 1992. Izin pendirian dikeluarkan oleh Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Barat  pada tahun pelajaran 1992/1993 dengan piagam pendirian no. 130/102/kep/E 92. Pengerjaan RKB SMAM 25 sebanyak 10 lokal oleh dilakukan oleh PT. IMEMBA.

SMA M 25 didirikan karena beberapa pertimbangan: (1) Pertimbangan aspek agama, para pendiri berkeinginan agar paham Islam yang sesuai al-Quran dan al-Sunnah benar-benar membumi di Pamulang. oleh karena itu, SMA dianggap lebih tepat untuk menjadi wadah mencetak kader Islam yang berpaham Muhammadiyah, (2) Pertimbangan aspek filosofis, bahwa lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah masih jarang dan terkesan ketinggalan zaman, (3)Pertimbangan historis, bahwa dari tahun berdirinya Muhammadiyah  1912 Muhammadiyah semakin mendapat dukungan dari masyarakat, termasuk di Pamulang, 4) Pertimbangan aspek pendidikan, bahwa banyak siswa SMP Muhammadiyah 22 yang melanjutkan pendidikan ke SMA umum. 5) aspek sosial. Adanya permintaan dari masyarakat agar perguruan membuka SMA sebagai kelanjutan SMP M 22.

Setelah satu tahun beroperasi, tepatnya Pada tahun 1993 SMAM 25 mendapat status “DIAKUI”. Lima tahun kemudian tepatnya tahun 1998 memperoleh status “DISAMAKAN”. Dengan semangat kerja keras seluruh stakeholder,  SMA M 25 semakin tampil meyakinkan dan percaya diri, karena gedungya semakin representative, kepercayaan masyarakat pun semakin luas. Akhirnya pada tahun 2007 sekolah ini mendapat sertifikat  “TERAKREDITASI A” dari Dinas Pendidikan Propinsi Banten. Pada tahun 2007 ini juga SMAM 25 memperoleh sertifikat sekolah dengan pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL) dengan program uanggulan Desain Grafis.

Menurut penuturan Drs. Tajudin, Pada awal berdiri tahun 1991/1992 SMA M 25 hanya memiliki 8 orang siswa. Gedungpun masih menumpang di SD M 12. Karena keterbatasan pemasukan, gaji guru pada waktu itu baru sebesar Rp.87.000 perbulan. Pengelolaan administrasi sekolah juga masih memakai mesin tik. Baru pada tahun 1995 SMA M mulai menggunakan komputer memanfaatkan bantuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang diikhtiarkan Haryono Fajar pengurus komite sekolah.

Keterbatasan finansial pada waktu itu tidak membuat pimpinan, guru dan karyawan SMA M 25 putus asa dan menyerah. Bahkan justru sebaliknya, daya juang dan militansi dari semua warga sekolah malah semakin kuat. Hampir semua ikut mempromosikan sekolah tanpa mempertanyakan insentif, guru-guru juga memiliki semangat mengajar tinggi bahkan tak jarang seorang guru memegang beberapa bidang studi. Ukhuwah Islamiyah antar guru juga terjalin dengan baik bahkan guru-guru pada waktu itu masak bersama di sekolah untuk mendampingi dan mensupport kegiatan pengkaderan yang dilakukan IPM. Berkat kerja keras dan kerja ikhlas akhirnya pada tahun ajaran 1993/1994 untuk pertama kali SMA M 25 berhasil meluluskan 25 orang siswa. Terjadinya penambahan alumni angkatan pertama tersebut karena adanya siswa pindahan dari sekolah lain sebanyak 17 orang. Demikian jelas Tajudin.

Silaturahim menjadi salah satu kekuatan promosi sekolah pada masa-masa awal. Pimpinan SMA M 25 pada waktu itu cukup aktif mendatangi SMP yang ada. Setiap kali datang biasanya sekolah memberi kenang-kenangan kepada SMP yang dikunjungi berupa jam dinding, spanduk dan lain-lain. Silaturrahim juga dilakukan kepada tokoh masyarakat dan pemerintahan. Promosi dor to dor ini cukup efektif guna meyakinkan orang tua agar menyekolahkan anaknya di SMA M 25. Terbukti pak camat Pamulang, Nashihin dan Edy Kusnadi menyekolahkan anaknya di SMA M 25.

Agar keberadaan sekolah dirasakan dan bermanfaat bagi masyarakat, SMA M pada  masa awal juga sering melibatkan masyarakat dalam kegiatan pawai Muharaman keliling kampung diiringi drumband. Kelurahan dan kecamatan juga sering memanfaatkan drumband  SMA M 25 untuk kegiatan mereka. Sehingga berkat kedekatan dan anjangsana yang  terjalin pak camat pernah melontarkan motivasi supaya Muhammadiyah membuat sekolah yang megah agar jadi kebanggaan muslim.